PEREMPUAN DAN EMANSIPATORIS
DIALOG KEPEREMPUANAN HIMASSILA MAKASSAR Minggu, 29 Desember 2024
"Perempuan dan Emansipatoris"
Oleh : Nur Hasanah
Di mulai pada penjabaran ke tiga narasumber
yang mengalihkan pembahasannya pada isu-isu feminisme dan emansipatoris seperti pada tema kegiatan.
perlu di ketahui terlebih dahulu bahwa feminisme adalah upaya atau gerakan dari kaum perempuan menuntut kesetaraan menuntut hal yang sama seperti yang di rasakan oleh kaum laki-laki agar tidak ada ketimpangan untuk kaum perempuan, Mary waltolnecraft (1759-1797) adalah pelopor pertama gerakan feminisme memperjuangkan hak-hak perempuan hak sama seperti yang diberikan kepada laki-laki untuk mengenyam pendidikan untuk memiliki hak pilih dalam lingkup sosial dan budaya.
berbeda dengan feminin adalah suatu tingkah laku yang dominan ada pada diri perempuan yang menggambarkan kasih dan sayang sementara maskulin adalah orang yang memiliki sifat yang keras yang kemudian di lontarkan narasumber jika tidak berotot di katakan sebagai banci ini juga adalah salah satu stereotip untuk kaum laki-laki
sudah jelas dalam statement di atas terlihat bukan hanya kaum perempuan yang di rugikan dalam hal gender yang terbentuk dari konstruksi masyarakat tetapi juga untuk laki-laki.
Kemudian masuk pada emansi patoris adalah konsep atau pergerakan yang bertujuan untuk mencapai kemerdekaan atau pembebasan, terutama dalam konteks politik, sosial, atau budaya.
Lalu masuk pada subordinasi untuk kaum perempuan
bahwa ruang lingkup yang paling kental agama saja masih bisa terjadi eksploitasi tersebut.
Faktanya berapa banyak pondok pesantren yang ternyata mereka melakukan pelecehan terhadap santriwati nya sekali pun pelaku ini punya kapasitas intelektual yang tinggi, punya pemahaman agama yang mapan itu semua tidak menjamin untuk perempuan menemukan ruang aman dalam Masyarakat kita.
Bahkan dalam data komnas (komisi nasional) perempuan paling banyak diterimanya pelecehan adalah dalam rumah, rumah yang seharusnya melindungi memberikan ruang aman ternyata menjadi tempat yang paling seru untuk terjadinya pelecehan.
pertanyaan nya dimanakah ruang aman untuk perempuan itu sendiri??
apakah ruang aman untuk merasakan aman memang sudah tidak ada untuk perempuan?
Saya sepakat dengan statement narasumber ayunda Nur Afika Firanti bahwa memang benar ada gap antara pengetahuan dan tindakan ketika kita sudah mengetahui hal itu salah dan merugikan tetapi kita tetap melakukan nya seperti contoh yang diberikan ayunda Nur afika "Pelecehan yang terjadi pelakunya dia sudah tahu apa yang dia lakukan itu tidak manusiawi tapi tetap melakukannya,jadi ada gap antara pengetahuan dan tindakan kita memiliki banyak konsep dalam pikiran sayangnya tidak dapat kita tuangkan dan implementasikan dari pengetahuan tersebut".
"Perempuan hanya di jadikan sebagai objek seksual dan laki-laki sebagai subjek yang menikmati tetapi terkadang bukan hanya laki-laki atau masyarakat yang mensubordinasi perempuan tetapi perempuan sendiri yang mengeksploitasi dirinya dengan memerkan hal-hal yang masuk dalam ranah pribadi nya untuk bagaimana lawan jenis nya tertarik."
Pernyataan dari narasumber kakanda Rais syukur di atas kemudian menarik perhatian saya, dalam pandangan saya sendiri statement di atas adalah salah satu stereotip atau stigma, alih-alih masuk pada isu kesetaraan dalam hal ini saya bawa pada hal kebebasan bagaimana perempuan merasakan kebebasan berekspresi apakah kebebasan berekspresi perempuan bisa dikatakan eksploitasi diri.?
apakah kebebasan berekspresi juga tidak bisa dimiliki oleh kaum perempuan sehingga di katakan eksploitasi diri.
Lalu muncul sebuah pernyataan audiens yang mengatakan tidak perlu repot-repot menuntut kesetaraan menyuarakan hak-hak perempuan mengangkat derajatnya karna pada dasarnya perempuan sudah di muliakan dalam islam, orang-orang yang memperjuangkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan adalah percuma
"tapi tuhan tidak melihat manusia atas jenis kelaminnya".
Marasumber Ayunda Nur Afika tidak setuju atas kata percuma memperjuangkan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki yang dilontarkan audiens, karna fakta sosial nya bahkan sampai hari ini pemarjinalan kepada perempuan tetap terjadi, kalaupun untuk solusi nya dikeluarkan berbagai teori yang memang berkaitan dengan masalah tersebut tidak perlu melakukan demo, atau perlawanan bahkan dialog keperempuanan adalah tidak perlu dilakukan"
"tapi kan kita lihat lagi fakta sosial lagi bahwa sekarang masih banyak kekerasan yang di berikan untuk perempuan.
bahwa perempuan mengalami ketimpangan jadi statement bahwa memperjuangkan kesetaraan untuk perempuan percuma itu adalah salah". Ayunda Nur Afika melanjutkan.
Masuk pada kesetaraan gender
perlu di tinjau kembali apa itu perbedaan kesetaraan gender dan ke identikan gender.
kata kesetaraan sudah salah di pahami dan pengimplementasiannya sudah salah dalam masyarakat kita.
identik dan kesetaraan itu berbeda, identik itu menuntut sama persis jadi apa yang di rasakan laki-laki entah itu dalam dunia pekerjaan,sosial dan budaya itu juga harus di timpakan pada perempuan tidak melihat hal-hal yang menjadi penghalang untuk perempuan tidak melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan laki-laki contohnya dalam dunia pekerjaan sendiri perempuan tidak mendapatkan cuti melahirkan ini adalah salah satu aspek biologis yang berbeda dengan laki-laki.
kesetaraan tidak menuntut 50/50
mengartikan makna kesetaraan dan makna identik itu harus berbeda tidak harus persis sama dalam hal kewajiban dan hak mereka.
dimana kesetaraan ini hanya menuntut keadilan untuk semua gender dan mempertimbangkan kebutuhan spesifik mereka entah itu dalam hal biologis,psikis dan lainnya.
Seharusnya jangan mendeskriminasi sama satu lain karna pada akhirnya perempuan dan laki" saling membutuhkan seperti halnya dalam ranah biologis tentunya alat reproduksi laki-laki membutuhkan vagina.
persepsi akal jangan memandang laki-laki atau perempuan dari segi fiskal atau teknis jangan melihat perempuan hanya sebagai objek seksual jadi pada akhirnya bagaimana kita sampai pada kesetaraan atau keadilan, kita harus menaikkan indeks kesadaran kita bersama membuat sistem untuk saling bekerja sama bukan untuk saling mendeskriminasi satu sama lain
karna secara alamiah kita di ciptakan untuk saling membutuhkan.
"kamu bukanlah apa-apa dan siapa-siapa jika kamu tidak mengeluarkan isi pikiran mu".




Komentar
Posting Komentar