Narasi tentang pendidikan untuk perempuan
Penulis : Nur Hasanah
Pendidikan kunci perempuan meraih kesejahteraan.
Sejati nya pendidikan bukanlah satu-satunya kunci melainkan pendidikan menjadi salah satu kunci untuk perempuan meraih kesejahteraan.
......
Perempuan di anggap hanya sebagai pajangan atau sebatas interior sedangkan mereka laki-laki menganggap diri mereka sebagai superior,
kodratnya perempuan "melahirkan, menyusui, melayani di kasur, dan dapur".
Bukan tanpa sebab mereka kaum laki-laki menyimpulkan hal tersebut karena banyak di masyarakat kita menormalisasikan pemikiran seperti itu, dan kaum perempuan meng iyakan saja tanpa adanya perlawanan dan menganggap diri mereka lemah, "mereka tidak pantas untuk memimpin", "mereka tidak tegas", "mudah nangis" dll.
Ada statement dari kaum laki-laki yang mengatakan "kalo tidak mau di cap dengan pemikiran seperti itu perempuan harus buktikan bahwa pemikiran itu salah bukan malah duduk aman di zona nyaman".
jawaban saya adalah pemikiran ini sudah sangat mendarah daging di masyarakat kita dan perempuan tidak di berikan kesempatan untuk memimpin bahkan untuk mengambil keputusan.
inilah mengapa pendidikan sebagai tongkat perlawanan, munculnya kata perlawanan karena adanya penindasan.
Contohnya saja pada saat kita sedang balita perbedaan warna baju dimana perempuan di pakaikan warna merah muda yang artinya lembut dan feminitas dan yang laki-laki menggunakan warna biru yang di mana warna biru di anggap secara ekslusif sebagai warna kaum laki-laki sama halnya dengan warna merah muda di cap sebagai warna perempuan.
Yang dimana di umur sekecil itu kita tidak bisa melakukan perlawanan dan hal ini sudah di normalisasikan,
Contohnya bahwa perempuan tidak boleh pulang larut malam tetapi kaum laki-laki di perbolehkan dan di sahkan,
dan perempuan di anggap sebagai perempuan tidak baik karena pulang larut malam, sama halnya dengan pernyataan laki-laki tidak boleh menangis atau dia di anggap banci.
pemikiran-pemikiran inilah yang sudah melekat pada masyarakat kita.
Pendidikan berpengaruh pada cara berpikir, saya selalu menilai itu dari perkataan teman saya yang notabene nya tidak melanjutkan ke perguruan tinggi ia mengatakan bahwasanya"kuliah itu tidak penting, buang-buang uang saja", dari pernyataan ini dapat kita nilai cara berpikirnya.
.....
Mengutip dari Undang-undang Nomor 11 tahun 2009, bahwasanya sejahtera adalah kondisi terpenuhinya segala kebutuhan material, spritual dan sosial.
Terpenuhinya segala apa yang menjadi keinginan individu yang artinya sejahtera ini di anggap sebagai kebutuhan sekunder seperti apa yang pemantik katakan tadi ayunda *Lili cahyati* "Sejahtera itu di anggap ketika apa yang menjadi keinginan mu terpenuhi tidak peduli jika seorang individu itu sudah memiliki barang tersebut tetapi jika dia ingin mendapatkannya lagi dan mampu itulah yang di sebut sejahtera".
Banyak cara untuk perempuan meraih kesejahteraan nya sendiri, saya anggap ini sebagai keinginan individual,karena pada dasarnya kita tidak tahu tolak ukur sejahteranya pada setiap diri perempuan, tetapi saya percaya pendidikan akan selalu membuka pintu kesempatan untuk perempuan mendapatkan peluang pekerjaan begitupun dengan kaum laki-laki.

Komentar
Posting Komentar